Donny Wira Yudha Wakili Indonesia dalam APEC 2016

apec

Taiwan – Sabtu (1/9) Salah satu dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes berhasil menjadi wakil Indonesia dalam APEC High Level Policy Dialogue on Education and Career Planning for Young Athletes. Dia adalah Donny Wira Yudha Kusuma, dosen Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) ini menyampaikan presentasi dengan tema “Grand Strategy : development of Indonesia Sports Acievments 2014-2024”. Doktor termuda yang dimiliki Fakultas Ilmu Keolahragaan ini merupakan lulusan Central China Normal University (CCNU). Dia mendapatkan tugas dari Kemenpora RI untuk mewakili Indonesia pada acara yang berlangsung 2 (dua) hari tersebut.

APEC High Level Policy Dialogue on Education and Career Planning for Young Athletes merupakan dialog kebijakan tingkat tinggi APEC dalam rencana pendidikan dan karir untuk para atlet muda.

Bagi atlet, latihan dan kompetisi adalah bagian dari hidupnya. Tetapi, kehidupan mereka setelah pensiun/berhenti menjadi atlet merupakan isu penting dalam menentukan kebijakan pemerintah. Dialog ini merupakan sarana untuk mengetahui kebijakan masing-masing negara tentang atlet muda, pendidikan mereka dan masa depan mereka.

Acara ini dihadiri oleh negara-negara anggota APEC yaitu Chili, Indonesia, Peru, Kores Selatan, Malaysia, Singapura, Filipina, Rusia, Taiwan, Thailand, Canada, Amerika Serikat, Vietnam dan Jepang.

Presentasi dapat diunduh pada laman  http://apecsport.tier.org.tw/download_e.aspx

FIK Merupakan Aset Penting dalam AIPT 2016

aipt

Bertempat di Ruang Pertemuan Dekanat FIK, Rabu (5/10) diadakan sosialisasi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) yang disampaikan oleh Rektor Unnes Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum. bersama Ketua Badan Penjamin Mutu Unnes, Dr. Suwito Eko Pramono M.Pd.

Semangat seluruh sivitas akademik berkomitmen mengembangkan Unnes sebagai universitas konservasi dan bereputasi internasional, terus meningkatkan kinerja dan prestasi baik mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan.

Rektor menyampaikan bahwa Unnes tertantang untuk melaksanakan AIPT di tahun 2016 guna meningkatkan kualitas legalitas Unnes sebagai Lembaga Perguruan Tinggi yang bertaraf Internasional. Diharapkan AIPT Unnes dapat meningkat menjadi A yang sebelumnya pada tahun 2012, Unnes memperoleh nilai B.

AIPT sendiri merupakan hal yang sangat penting bagi Unnes dalam rangka menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Saat ini status Unnes masih dalam Badan Layanan Umum. Keuntungan menjadi PTN-BH adalah kemudahan dalam mengelola sumber daya yang dimiliki dan manajemen dalam PTN.

Rektor menyampaikan dalam menuju AIPTN 2016 diharapkan seluruh sivitas akedemika Unnes bahu-membahu dan bersemangat dalam proses. Salah satu cara adalah dengan meningkatkan kemampuan ICT para tendik, dosen dan mahasiswa. Dimana para sivitas akademika diharapkan selalu mengupdate berita dan informasi sekitar Unnes. Lebih lanjut para dosen juga diharapkan memiliki dan mengupdate data pada google scholar agar kemampuan dan hasil penelitian dan tulisan para dosen yang dapat dipublikasi dan dapat diakses sehingga lebih dikenal secara internasional.

Saat ini Unnes telah memiliki reputasi yang baik di skala regional maupun internasional. Hal ini tidak lepas dari peran Fakultas Ilmu Keolahragaan dalam mencetak atlet-atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional, Sea Games dan Kejuaran Dunia lainnya. FIK merupakan aset penting bagi Unnes karena karakteristiknya, sehingga dapat mendukung Unnes meraih hasil AIPT sesuai yang diharapkan.

 

 

Dua Dosen FIK Terbang ke Taiwan

tandiyo

Taipe, Taiwan  – Rabu (5/10) Dalam rangka mendukung Universitas Negeri Semarang menjadi world class university, dua orang dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan terbang ke Taiwan untuk menjadi dosen tamu (guest lecturer). Mereka adalah Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd dan Dr. Heny Setyawati, M.Si. Keduanya diundang oleh Chinese Culture University (CCU) Taipe, Taiwan untuk memberikan kuliah umum di Departement of Phisical Education and Sport Coaching Science.

Prof. Tan panggilan akrab beliau, akan berbicara mengenai Physical Education sedangkan Dr. Heny akan menyampaikan tentang Sport Psychology.

Selain itu mereka juga akan melakukan diskusi mengenai kerjasama riset dengan Prof. Chia-Hua Kuo, P.hD. FACSM, Dean for Research and Development, University of Taipe (UT) pada hari berikutnya.

Menggugat Pekan Olahraga Nasional

TANDIYO

oleh Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd., Guru Besar Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes.

PEKAN Olahraga Nasional ke-19 di Jawa Barat telah usai. Ajang adu kecepatan, kekuatan, dan ketangguhan di arena olahraga yang diselenggarakan tiap empat tahun ini, telah mengalami perubahan baik dari reputasi maupun orientasi.

Saat ini, sepertinya lebih tepat bila PON diakronimkan sebagai Pesta — bukan Pekan— Olahraga Nasional. Sebab, terlalu banyak cabang olahraga dan nomor-nomor yang dipertandingkan.

PON sudah tidak mungkin lagi diselenggarakan selama sepekan. Sejak PON XV di Jawa Timur hingga PON XIX di Jawa Barat, waktu yang diperlukan untuk menggelar acara ini berkisar antara 11 sampai 13 hari, terhitung dari pembukaan hingga penutupan.

Belum beberapa cabang olahraga yang memulai pertandingan sebelum pembukaan. Selain itu, penyelenggaraan PON telah berubah orientasi menjadi ”pesta yang mempertontonkan olahraga”.

Ambisi berlebihan dari setiap daerah untuk meraup medali, membuat pesta ini kehilangan nilai-nilai sportivitas dan jauh dari nilai luhur Olympism yang seharusnya mewarnai setiap gelaran olahraga. Di Sumatera Selatan 2004, PON diikuti oleh 5.560 atlet dan mempertandingkan 41 cabang olahraga.

PON XVII Kaltim 2008 diikuti 7.946 atlet dengan 43 cabang, PON XVIII di Riau diikuti 11.276 atlet dengan 43 cabang, dan PON XIX di Jawa Barat diikuti oleh sekitar 15.000 atlet, dengan 44 cabang dan 10 cabang eksibisi. PON XIX diikuti oleh 34 provinsi, memperebutkan 756 medali emas. Bandingkan dengan Olimpiade Rio 2016, diikuti oleh 78 negara dan memperebutkan 307 medali emas.

Pesta Olahraga Nasional empat tahunan ini sudah saatnya dievaluasi, dan mengembalikan hakikat sebagai gelaran olahraga tingkat nasional yang menjadi mata rantai strategis untuk menggapai prestasi dunia.

Sasaran akhir pembinaan olahraga adalah kebanggaan menyaksikan sang Merah Putih berkibar di atas bendera negara lain, diiringi oleh gema Indonesia Raya. PON cukup mempertandingkan cabang-cabang olahraga Olimpiade, atau pisahkan cabang Olimpiade dan non-Olimpiade.

Keduanya bisa tetap disebut PON, yang satu kepanjangan Pekan Olahraga Nasional yang cukup digelar selama sepekan dan diselenggarakan empat tahun sekali pada tahun ganjil, yang lain kepanjangan Pesta Olahraga Nasional diselenggarakan empat tahun sekali pada tahun genap.

Di PON Jabar, Jateng membawa pulang 32 medali emas, 56 perak, dan 85 perunggu. Hasil ini tidak memenuhi target, karena KONI Jawa Tengah menetapkan target 60 medali emas. Ada beberapa faktor yang membuat target meleset.

Pertama, kualitas atlet Jateng masih di bawah atlet daerah lain. Ini terbukti secara empirik, karena atlet Jateng lebih banyak yang kalah. Mengapa mereka kalah? Ada dua sebab, yaitu teknis dan nonteknis.

Sisi teknis dapat dirunut menggunakan pendekatan ilmu keolahragaan, yang pasti akan ditemukan banyak kelemahan. Di antaranya, atlet terserang demam, diare, cedera dan lain-lain.

Atlet terserang demam dan diare menunjukkan tidak memiliki daya tahan tubuh baik, yang bisa jadi akibat gizi tidak seimbang selama latihan. Cedera dapat disebabkan kesalahan dalam latihan, mungkin teknik dan strategi latihan tidak mengembangkan otot secara seimbang.

Sisi non-teknis dapat disebabkan salah satunya oleh dominasi dan provokasi suporter. Kontingen Jateng kekurangan suporter. Kedua, ada dua hal yang tidak banyak diketahui atau disadari oleh masyarakat luas, karena memang tidak pernah diekspose oleh media.

Pertama, pada babak pra kualifikasi PON satu tahun lalu, Jateng mengumpulkan 75 emas, namun di PON hanya mampu membawa pulang 32 emas. Ada apa? Apa yang terjadi selama satu tahun persiapan menuju PON? Hal kedua, setidaknya ada 11 medali emas yang saat ini dibawa pulang Jabar, Jatim, Kaltim, Papua dan beberapa daerah lain, yang sejatinya milik Jateng.

Ke-11 medali emas tersebut ”kabur” bersama atlet Jateng yang hengkang ke daerah lain. Ada apa? Mengapa para atlet tersebut kabur ke lain daerah? Ini menjadi utang dan pekerjaan rumah bagi masyarakat Jawa Tengah. Ketiga, kisruh pendanaan olahraga di Jawa Tengah.

Secara sederhana saja, Jawa Barat mengucurkan dana sekitar Rp 370 milliar untuk menyiapkan atlet, dan pada akhirnya meraup 216 medali emas. Jateng menghibahkan dana sekitar Rp 70 milliar, membawa pulang 32 medali emas. Menurut saya, dari dana ini dapat dikatakan sebetulnya cukup seimbang antara dana yang disediakan dan jumlah medali yang dapat dibawa pulang.

Masih tentang dana, sejak Maret 2016, bagi atlet yang masuk pelatda persiapan PON disediakan Rp 3,5 juta per atlet per bulan, Dari jumlah tersebut, Rp 1,4 juta adalah uang saku dan sisanya Rp 2,1 juta untuk makan, sewa kamar, dan kebutuhan dasar seharihari. Menurut saya, jumlah ini kurang masuk akal mengingat kebutuhan gizi atlet merupakan syarat utama tampil prima.

Bila menggunakan standar kebutuhan gizi cukup, setidaknya per hari diperlukan dana sebesar Rp 90 ribu untuk tiga kali makan. Berarti dalam satu bulan diperlukan sekitar Rp 2,7 juta, belum termasuk biaya untuk memenuhi kebutuhan suplemen lain. Sungguh dapat dimaklumi bila kemudian pada periode kompetisi banyak atlet yang bertumbangan.

Sumber : suaramerdeka.com

FIK Unnes Harumkan Nama Indonesia dalam SUKMALINDO 2016

sukmalindo-1

Kuala Trengganu, Malaysia – Mahasiswa  Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes yang tergabung dalam Tim Sepak Takraw kembali mengharumkan nama Indonesia dalam Sukan Malaysia Indonesia 2016 (Sukmalindo).

Tim Sepak Takraw Putra Indonesia diwakili oleh Unnes, Tim Sepak Takraw A berhasil menang atas Malaysia dengan skor 21-18/21-16. Sedangkan Tim Unnes B kalah 19-21/19-21. Unnes A bermaterikan mahasiswa semester 5 dan 7 sedangkan Unnes B bermaterikan mahasiswa semester 1. Semua mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes.

Sebagai informasi, Sukmalindo adalah wadah pertandingan persahabatan mahasiswa Indonesia dengan Malaysia. Pada tahun ini, Kota Teregganu menjadi tuan rumah untuk acara yang sudah ada sejak 2008 ini. Lima cabang olahraga akan dipertandingkan di Universitas Sultan Zainal Abidin (Unisza).

Lima cabor tersebut adalah, sepak takraw, badminton, memanah, bola voli, dan futsal. Setiap atlet kedua negara akan bertanding dan seluruh pertandingan akan dilaksanakan serentak, Jumat 23 September di Dewan Gemilang Unisza.

Sukmalindo diharapkan bisa menjadi ajang persahabatan kedua negara. Akan tetapi, sifat kompetitif juga diutamakan dengan tetap menjunjung sportivitas. Itu yang diharapkan Didin Wahidin selaku Dirjen Belmawa Kemeterian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Indonesia.

“Saya berharap perhelatan ini bisa menjadi ajang kedua negara saling mengenal, khususnya dalam bidang olahraga. Sukmalindo diharapkan bisa menjadi alat pemersatu kedua bangsa, agar bia terus terjalin silaturahmi yang baik,” ujar Didin dalam sambutannya, Kamis (22/9/2016).

“Kita bukan mencari siapa pemenang dan siapa yang kalah. Kita mencari persahabatan. Siapa tahu, jika serumpun dalam hal olahraga sudah kuat, kita bisa menjadi yang terkuat di dunia suatu hari nanti,” sambungnya.

Ke UPI, Guna Persiapan AIPT

upi-1

Bandung – Dalam rangka mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang professional untuk meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat dan juga mendukung Unnes dalam mempersiapkan visitasi Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT), Jumat(30/9) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Unnes melakukan beberapa agenda dalam kunjungannya ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Diantaranya adalah melakukan studi banding dengan beberapa unit yang ada di UPI. Mengapa dipilih UPI, karena UPI merupakan perguruan tinggi eks-IKIP yang sudah menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH).

Pada hari berikutnya seluruh tenaga kependidikan juga mengikuti pelatihan capacity building guna memperkuat karakter dan kedisiplinan peserta. Dalam materinya, Iksanun Kami Pratama atau biasa dipanggil Canun ini menyampaikan bahwa apa yang kita lakukan akan kembali kepada kita, jadi sebisa mungkin kita melakukan kebaikan dimana, kapan dan dalam keadaan apa saja.

Dalam acara tersebut juga dilakukan pelepasan Kepala Bagian Tata Usaha dari Kabag TU FIK sebelumnya Drs. Adhi Setyanto, MM dan juga penyambutan Kabag TU FIK baru Supaat, SE, M.Pd. yang sebelumnya sebagai Kabag TU FMIPA. Sedangkan Pak Adhi panggilan akrab beliau mendapat tugas dan amanah baru sebagai Kabag. Kerjasama Unnes.